Desa wisata telah menjadi motor penggerak pariwisata berbasis komunitas di Indonesia, menawarkan pengalaman otentik yang tak didapatkan di hotel bintang lima. Akomodasi utama dalam skema ini adalah homestay lokal, di mana wisatawan menginap langsung di rumah penduduk, merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat. Meskipun menawarkan nilai kultural tinggi, Tantangan Homestay Lokal yang paling mendesak saat ini adalah standarisasi pelayanan. Kesenjangan antara harapan wisatawan dan realitas fasilitas serta layanan yang ditawarkan seringkali menjadi hambatan utama dalam meningkatkan citra dan daya saing desa wisata di pasar global.
Tantangan Homestay Lokal ini mencakup tiga aspek utama: kebersihan, keamanan, dan keramahan pelayanan. Dari sisi kebersihan, survei yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada 1 Agustus 2025 di 20 desa wisata percontohan menunjukkan bahwa hanya 45% homestay yang memenuhi standar minimum kebersihan kamar mandi dan linen. Kondisi ini dapat menurunkan tingkat kepuasan wisatawan dan, yang lebih penting, berisiko terhadap kesehatan. Oleh karena itu, Kemenparekraf telah meluncurkan program Sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) khusus untuk homestay, dengan target 5.000 unit tersertifikasi pada akhir 2026.
Aspek kedua dari Tantangan Homestay Lokal adalah keamanan dan fasilitas dasar. Banyak homestay di desa terpencil masih belum memiliki akses internet yang memadai dan standar keamanan (seperti alat pemadam api ringan/APAR atau kontak darurat yang jelas). Menanggapi hal ini, Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) telah bekerja sama dengan Polsek setempat untuk memberikan pelatihan tanggap darurat dan keamanan kepada 100 pemilik homestay di Desa Nglanggeran, sebuah desa wisata pioneer di Yogyakarta. Pelatihan ini diadakan setiap hari Sabtu di minggu kedua setiap bulan, memastikan kesiapan pengelola dalam menghadapi situasi darurat.
Aspek terakhir dan yang paling vital adalah kualitas keramahan dan kemampuan komunikasi (pelayanan). Berbeda dengan hotel, pelayanan homestay sangat bergantung pada individu pemiliknya. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi setempat menyadari bahwa pelatihan hospitality yang berkesinambungan adalah kunci. Mereka mengadakan workshop rutin mengenai cara menyajikan informasi wisata, menangani keluhan, dan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dasar. Dengan adanya standar yang jelas, mulai dari ketersediaan air panas hingga kehangatan sambutan, homestay lokal dapat meningkatkan daya saing, mengubah kunjungan singkat menjadi pengalaman kultural yang berkesan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang adil di tingkat desa.
