Perubahan iklim telah menjadi ancaman nyata dan mendesak bagi ketahanan pangan global, dengan sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan terhadap perubahan pola cuaca ekstrem, kekeringan berkepanjangan, dan banjir. Untuk menjamin keberlanjutan produksi pangan dan kesejahteraan petani, diperlukan Strategi Mitigasi dan adaptasi yang terpadu dan inovatif. Strategi Mitigasi berfokus pada upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian, sementara adaptasi bertujuan membantu petani menyesuaikan diri dengan dampak perubahan iklim yang sudah terjadi. Implementasi kedua strategi ini secara simultan sangat penting untuk membangun sistem pangan yang tangguh di masa depan.
Inovasi Pertanian untuk Adaptasi Iklim
Salah satu pilar utama adaptasi adalah pengenalan varietas tanaman yang lebih toleran terhadap iklim ekstrem. Strategi Mitigasi ini melibatkan riset intensif dan penyebaran bibit unggul kepada petani.
Sebagai contoh, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian telah berhasil mengembangkan varietas padi yang tahan terhadap genangan air (banjir) dan varietas yang memiliki siklus tanam lebih pendek, yang penting untuk menghindari puncak musim kering yang tak terduga. Pada musim tanam Maret-Juni 2025, Kementerian Pertanian menargetkan penyaluran benih padi unggul tahan kekeringan kepada 100.000 petani di kawasan Food Estate Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Selain itu, sistem irigasi hemat air, seperti irigasi tetes, juga didorong untuk diaplikasikan secara massal di lahan kering Nusa Tenggara Barat (NTB), mengurangi ketergantungan pada air hujan dan menghemat penggunaan air baku.
Mitigasi Emisi dari Pengelolaan Lahan
Strategi Mitigasi dalam sektor pertanian berfokus pada praktik pertanian cerdas iklim (Climate-Smart Agriculture/CSA), yang bertujuan mengurangi emisi Metana (CH4) dan Nitrogen Oksida (N2O) yang dihasilkan dari sawah dan penggunaan pupuk kimia. Metana, yang dihasilkan dari dekomposisi organik di sawah tergenang, memiliki potensi pemanasan global 25 kali lebih besar daripada Karbon Dioksida (CO2).
Salah satu praktik mitigasi yang sedang digalakkan adalah Sistem Pengairan Alternate Wetting and Drying (AWD), atau pengeringan berselang. Teknik ini secara signifikan mengurangi emisi metana dari sawah tanpa mengurangi hasil panen. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa adopsi AWD di 50.000 hektar sawah di Karawang, Jawa Barat, pada tahun 2024, telah berhasil menurunkan emisi metana dari area tersebut sebesar 30%. Selain itu, penggunaan pupuk organik dan pupuk berformula slow-release juga dipromosikan sebagai bagian dari Strategi Mitigasi untuk mengurangi emisi N2O yang berasal dari penggunaan pupuk anorganik berlebihan.
Dukungan Kebijakan dan Keamanan
Keberhasilan implementasi Strategi Mitigasi dan adaptasi sangat membutuhkan dukungan kebijakan dan keamanan. Pemerintah perlu memastikan bahwa petani memiliki akses terhadap informasi cuaca yang akurat dan tepat waktu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kini secara rutin mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang disebarkan melalui aplikasi mobile yang terintegrasi langsung ke ponsel petani. Peringatan ini disampaikan selambatnya tiga hari sebelum potensi bencana.
Selain itu, program asuransi pertanian juga diperkuat untuk melindungi petani dari kerugian finansial akibat gagal panen yang disebabkan oleh bencana iklim. Untuk menjamin kelancaran implementasi program di lapangan dan mencegah penyelewengan dana bantuan, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), melalui Bhabinkamtibmas di tingkat desa, juga dilibatkan dalam pengawasan penyaluran benih dan alat pertanian bersubsidi. Sinergi ini menjamin bahwa seluruh upaya Strategi Mitigasi dan adaptasi benar-benar mencapai sasaran.
