Harga komoditas global, mulai dari minyak mentah hingga pangan, terus menunjukkan volatilitas yang tinggi, menciptakan Efek Domino yang signifikan terhadap tingkat inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bank Sentral, seperti Bank Indonesia (BI), berada di garis depan dalam merumuskan dan melaksanakan Strategi Bank Sentral yang efektif untuk Menangkal Inflasi yang bersifat imported atau berasal dari luar negeri. Strategi Bank Sentral ini harus bersifat holistik, menggabungkan kebijakan moneter tradisional dengan langkah-langkah inovatif untuk menjaga Stabilitas Rupiah dan ekspektasi harga domestik. Keberhasilan Menangkal Inflasi ini sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung Prospek Ekonomi yang berkelanjutan.
Salah satu pilar utama Strategi Bank Sentral untuk Menangkal Inflasi adalah melalui kebijakan suku bunga acuan. Meskipun kenaikan suku bunga dapat mengerem permintaan domestik, langkah ini merupakan sinyal kuat kepada pasar bahwa Bank Sentral berkomitmen penuh untuk mencapai target inflasi yang ditetapkan. Namun, di tengah sinyal global menuju Pelonggaran Moneter yang diharapkan dimulai pada akhir tahun 2025, BI mungkin harus bersikap hawkish atau lebih ketat dari bank sentral negara maju lainnya jika Efek Domino dari geopolitik global terus memicu kenaikan harga komoditas. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 18 September 2025, diputuskan bahwa suku bunga acuan dipertahankan untuk mengawal ekspektasi inflasi agar tetap berada dalam koridor 2,5% hingga 3,5%.
Selain kebijakan suku bunga, Strategi Bank Sentral untuk Menangkal Inflasi juga melibatkan intervensi di pasar valuta asing. Kenaikan Harga Emas Antam dan komoditas global lainnya seringkali diikuti dengan pelemahan mata uang lokal. Oleh karena itu, BI secara terukur melakukan intervensi ganda (di pasar spot dan forward) untuk menjaga Stabilitas Rupiah, karena pelemahan mata uang akan membuat harga barang impor, termasuk bahan baku, menjadi lebih mahal dan memperkuat Efek Domino inflasi. Penggunaan Local Currency Settlement (LCS) dengan mitra dagang utama juga terus didorong sebagai bagian dari Strategi Diversifikasi risiko mata uang.
Strategi Bank Sentral ini tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan koordinasi erat dengan Strategi Pemerintah di sektor fiskal, yang dikenal sebagai TPI (Tim Pengendalian Inflasi). Tim TPI berfokus pada pengendalian inflasi dari sisi pasokan, seperti menjaga kelancaran distribusi pangan, memberikan subsidi tepat sasaran untuk energi, dan memastikan stok logistik yang memadai. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan per 1 Oktober 2025, ketersediaan pasokan 9 bahan pokok utama dinyatakan aman hingga kuartal pertama 2026. Dengan Efek Domino yang kompleks dari harga komoditas global, Menangkal Inflasi menuntut Pelonggaran Moneter yang hati-hati di masa depan dan Strategi Pemerintah yang terintegrasi penuh.
