Sampah di Saluran Air Bandung Picu Banjir Saat Tarawih

Kota Bandung yang dikenal dengan udaranya yang sejuk kini sering kali harus berhadapan dengan masalah klasik perkotaan yang berdampak langsung pada kenyamanan warganya. Fenomena penumpukan Sampah di Saluran air atau drainase kota kembali menjadi sorotan tajam setelah hujan deras yang mengguyur beberapa wilayah memicu banjir cileuncang secara mendadak. Hal ini sangat disayangkan karena terjadi tepat saat warga sedang melaksanakan ibadah salat tarawih di masjid. Akibat tersumbatnya aliran air oleh sampah domestik, debit air hujan meluap ke jalanan hingga masuk ke halaman tempat ibadah, menciptakan kekacauan di tengah suasana yang seharusnya penuh dengan ketenangan spiritual.

Keberadaan Sampah di Saluran air ini merupakan akumulasi dari kebiasaan buruk sebagian oknum masyarakat yang masih membuang limbah rumah tangga ke selokan maupun sungai kecil. Plastik, sisa makanan, hingga limbah tekstil yang menyumbat gorong-gorong membuat sistem drainase tidak mampu menampung volume air hujan yang tinggi. Dampaknya, jamaah yang sedang khusyuk beribadah terpaksa harus segera mengevakuasi kendaraan mereka atau bahkan menghentikan aktivitas ibadahnya demi mengamankan fasilitas masjid dari rendaman air. Kejadian yang berulang ini menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan masih menjadi tantangan besar di ibu kota Jawa Barat.

Masalah Sampah di Saluran ini juga mengakibatkan rusaknya infrastruktur jalan di sekitar area pemukiman warga Bandung yang terdampak banjir. Genangan air yang bercampur dengan sampah menciptakan bau tidak sedap dan risiko penyebaran penyakit kulit maupun demam berdarah pasca banjir surut. Pemerintah Kota Bandung melalui dinas terkait sebenarnya terus berupaya melakukan pengerukan sedimen dan pembersihan saluran secara berkala, namun kecepatan produksi sampah harian nampaknya masih melampaui kemampuan petugas kebersihan di lapangan.

Dampak sosial dari adanya Sampah di Saluran air ini sangat dirasakan oleh para pengurus masjid yang harus bekerja ekstra keras membersihkan sisa lumpur dan sampah setelah air surut agar masjid dapat digunakan kembali untuk salat subuh dan kegiatan Ramadan lainnya. Gotong royong warga untuk membersihkan selokan di lingkungan masing-masing sebelum puncak musim hujan tiba menjadi kunci mitigasi yang paling efektif. Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak, termasuk dalam hal menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari iman.