Menyingkap Kisah di Tusuk Sate: Sejarah Panjang Gedung Sate Bandung. Di jantung kota Bandung, berdiri megah sebuah bangunan ikonis yang arsitekturnya selalu menarik perhatian: Gedung Sate. Lebih dari sekadar simbol pemerintahan Jawa Barat, Gedung Sate menyimpan Kisah di Tusuk Sate yang kaya akan sejarah, perjuangan, dan inovasi arsitektur. Memahami perjalanan panjangnya berarti menyelami salah satu lembaran penting masa lalu Indonesia.
Pembangunan Gedung Sate dimulai pada tahun 1920, diprakarsai oleh pemerintah Hindia Belanda dengan nama Gouvernementsbedrijven. Dirancang oleh tim arsitek yang dipimpin oleh J. Gerber, bangunan ini mengusung gaya Art Deco yang khas, memadukan unsur-unsur lokal dan Eropa. Proses pembangunannya melibatkan sekitar 2.000 pekerja, sebagian besar adalah masyarakat pribumi, dengan pengawasan ketat dari insinyur sipil Belanda. Butuh waktu sekitar empat tahun untuk menyelesaikannya, dan pada tahun 1924, bangunan ini resmi beroperasi sebagai pusat Departemen Pekerjaan Umum dan Pengairan Hindia Belanda. Desainnya yang unik, terutama ornamen “tusuk sate” di puncaknya, konon terinspirasi dari bentuk tusuk sate tradisional Indonesia, menjadi penanda yang melekat dan membentuk Kisah di Tusuk Sate yang melegenda.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Gedung Sate tidak kehilangan relevansinya. Ia menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting, termasuk perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Pada tanggal 3 Desember 1945, terjadi peristiwa heroik di mana tujuh pemuda gugur saat mempertahankan Gedung Sate dari serangan pasukan Sekutu dan NICA. Salah satu yang gugur adalah Letnan Kolonel Daan Yahya. Peristiwa ini kemudian diabadikan dengan didirikannya tugu peringatan di halaman depan gedung. Sejak saat itu, Gedung Sate menjadi simbol perjuangan dan kebanggaan masyarakat Jawa Barat.
Kini, Gedung Sate berfungsi sebagai Kantor Gubernur Jawa Barat. Berbagai acara kenegaraan dan budaya sering diadakan di sini. Pada Hari Jadi Provinsi Jawa Barat yang diperingati setiap tanggal 19 Agustus, Gedung Sate menjadi pusat perayaan, menandai peran pentingnya dalam administrasi dan identitas provinsi. Misalnya, pada perayaan Hari Jadi Jawa Barat 19 Agustus 2024, Gedung Sate menjadi tuan rumah upacara bendera yang dihadiri oleh seluruh jajaran pemerintahan provinsi.
Mengunjungi Gedung Sate bukan sekadar melihat bangunan tua, melainkan menyelami setiap lekuk dan ceruk yang menyimpan Kisah di Tusuk Sate yang mendalam. Dari sejarah pembangunannya yang megah hingga perannya dalam perjuangan kemerdekaan, Gedung Sate tetap menjadi salah satu permata sejarah dan arsitektur Indonesia yang patut dijaga kelestariannya.
