Meskipun Indonesia adalah negara tropis, wilayah dataran tinggi Bandung, khususnya di area Ciwidey dan Kertamanah, baru-baru ini dikejutkan dengan munculnya fenomena Embun Upas. Fenomena ini terjadi ketika suhu udara turun secara drastis hingga mendekati atau bahkan di bawah 0 derajat Celsius, menyebabkan embun pagi yang menempel pada daun dan rumput membeku menjadi butiran es halus. Pemandangan hamparan kebun teh yang memutih seperti tertutup salju ini mendadak viral di tahun 2026, menarik ribuan wisatawan yang penasaran ingin merasakan sensasi “Eropa di Jawa Barat” secara langsung.
Secara ilmiah, fenomena Embun Upas di Bandung biasanya terjadi pada puncak musim kemarau, ketika langit bersih tanpa awan (clear sky) pada malam hari. Ketiadaan awan membuat panas bumi terlepas ke atmosfer dengan sangat cepat, sehingga suhu permukaan tanah turun sangat ekstrem sebelum matahari terbit. Istilah “Upas” sendiri dalam bahasa Sunda berarti racun, karena embun beku ini seringkali membuat tanaman perkebunan milik warga menjadi layu atau mati akibat suhu yang terlalu dingin. Meskipun indah secara visual, fenomena ini merupakan tantangan tersendiri bagi para petani setempat.
Bagi wisatawan, kehadiran fenomena Embun Upas memberikan pengalaman unik yang jarang ditemukan di kota-kota lain. Banyak orang rela berkemah di dataran tinggi Bandung demi bisa bangun pagi dan melihat kristal es yang menyelimuti dedaunan. Kilauan es saat terkena sinar matahari pertama menciptakan suasana yang sangat magis dan estetik untuk diabadikan melalui lensa kamera. Di tahun 2026, pengelola wisata di kawasan Ciwidey mulai menyediakan fasilitas peminjaman pakaian hangat dan minuman jahe panas untuk melayani wisatawan yang tidak terbiasa dengan suhu dingin ekstrem tersebut.
Namun, di balik keindahannya, fenomena Embun Upas juga menjadi pengingat akan adanya anomali cuaca yang semakin sering terjadi. Para ahli meteorologi menyebutkan bahwa perubahan iklim global turut memperparah durasi dan intensitas penurunan suhu udara di dataran tinggi. Pemerintah daerah kini mulai memberikan edukasi kepada para petani mengenai teknik menanam yang lebih tahan terhadap suhu beku (frost) agar kerugian ekonomi dapat diminimalisir. Kerja sama antara sektor pariwisata dan pertanian sangat diperlukan agar fenomena alam ini bisa membawa manfaat tanpa merugikan mata pencaharian warga.
